Selamat Datang di Blog Horti Fresh

Selasa, 29 Januari 2013

Laporan Analisa Kualitatif Protein


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Protein (protos yang berarti ”paling utama") adalah senyawa organik kompleks yang mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptide. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida. Proetin banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani.
Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat.
Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan amino diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang melibatkan gugus R-nya.
Protein sangat penting bagi kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui tentang protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Protein merupakan zat gizi yang sangat penting karena yang paling erat hubungannya dengan proses-proses kehidupan. Didalam sel, protein terdapat sebagai protein struktural maupun sebagai protein metabolik. Protein metabolik ikut serta dalam reaksi-reaksi biokimia dan mengalami perubahan bahkan mungkin sintesa protein baru. Penentuan protein dalam makanan sebaiknya mengenai kuantitas maupun kualitasnya.
Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut.

B.     Tujuan
1.      Mahasiswa dapat melakukan analisa kualitatif protein
2.      Test biuret untuk membuktikan adanya molekul peptida dalam protein.
3.      Memahami sifat-sifat kimia protein

C.    Alat dan Bahan
No
Alat
Bahan
1
Tabung reaksi
Susu kedelai
2
Pipet tetes (dropped pipet)
HCL 0,1 N
3
Pipet ukur
Air suling
4
Penangas air
Kertas pH
5

Larutan ZnSO4 encer
6

NaOH 0,1 N
7

Larutan CuSO4 0,1 N



BAB 2
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Reaksi Biuret
Dalam suasana basa Cu bereaksi dengan beberapa jenis larutan protein dan menghasilkan warna violet. Hasil pembentukan senyawa kompleks, reaksi biuret dapat terjadi pada molekul yang mengandung 2 gugus

(- C – NH -) yang terikat pada satu atom karbon atau atom nitrogen atau terikat langsung.


    O
Senyawa yang mengandung gugus – C – NH – diganti dengan gugus – C – NH2

                                                                   O                                            O
- C – NH2 atau gugus –CH2NH2 juga positif dalam uji Biuret

  O

Pereaksi :
a.       NaOH 0,1 N
b.      CuSO4 0,1 N

Cara Kerja :
1.      Siapkan 2 tabung reaksi
2.      Mengisi dengan larutan protein sebanyak 2 ml pada tiap-tiap tabung
3.      Tambahkan NaOH 0,1 N 1 ml dan CuSO4 0,1 N sebanyak 2-4 tetes pada kedua tabung
4.      Ulangi percobaan sekali lagi
5.      Mengamati perubahan yang terjadi



Hasil :
No
Perlakuan
Hasil endapan
1
Susu kedelai + NaOH 0,1 N 1 ml + CuSO4 0,1 N
++++
2
Aquades + NaOH 0,1 N 1 ml + CuSO4 0,1 N
++

2.      Uji Koagulasi
Protein dengan penambahan asam atau pemanasan akan terjadi koagulasi. Pada pH isoelektrik (pH larutan tertentu biasanya berkisar 4 - 4,5 dimana protein mempunyai muatan positif dan negatif sama, sehingga saling menetralkan) kelarutan protein sangat menurun atau mengendap. Pada temperatur diatas 60 oC kelarutan protein akan berkurang (koagulasi) karena pada temperatur yang tinggi energi kinetik molekul protein meningkat sehingga terjadi getaran yang cukup kuat untuk merusak ikatan atau struktur sekunder, tertier dan kuartener yang menyebabkan koagulasi.

Pereaksi :
Asam asetat 1 M

Cara Kerja :
1.      Siapkan 2 tabung reaksi
2.      Masukkan kedalam tabung reaksi yang berisi 5 ml larutan protein ditambah 2 tetes asam asetat 1 M
3.      Letakkan tabung tersebut dalam air mendidih selama 5 menit
Hasil :
No
Perlakuan
Endapan
Kelarutann
1
4 ml protein + asam asetat 1 M 4 tetes
+
+++
2
4 ml protein + asam asetat 1 M 4 tetes + pemanasan 10 menit
+++
+



3.      Pengendapan dengan Alkohol
Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta di elektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air.

Pereaksi:
a.       HCl 0,1 M
b.      NaOH 0,1 M
c.       NaCl 0,1 M
d.      Etanol 95%
Cara kerja :
1.      Sediakan 3 tabung reaksi dan isi masing-masing tabung reaksi dengan 3 ml larutan protein.
2.      Kedalam tabung 1 : tambahkan 1 ml HCl 0,1 M dan 5 ml etanol 95%,
3.      Kedalam tabung 2 : tambahkan 1 ml NaOH 0,1 M dan 5 ml etanol 95%
4.      Kedalam tabung 2 : tambahkan 1 ml NaCl 0,1 M dan 5 ml etanol 95%
Hasil :
No
Perlakuan
Endapan
Kelarutan
1
3 ml protein + 1 ml HCl 0,1 M dan 5 ml etanol 95%
+
+++
2
3 ml protein + 1 ml NaOH 0,1 M dan 5 ml etanol 95%
++
++
3
3 ml protein + 1 ml NaCl 0,1 M dan 5 ml etanol 95%
+++
+

4.      Denaturasi Protein
Denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, ikatan garam atau bila susunan ruang atau rantai polipetida suatu molekul protein berubah. Dengan perkataan lain denaturasi adalah terjadi kerusakan struktur sekunder, tertier dan kuartener, tetapi struktur primer (ikatan peptida) masih utuh.

Pereaksi :
a.       NaCl 0,1 M
b.      HCl 0,1 M
c.       NaOH 0,1 M
Cara kerja :
1.      Sediakan 3 tabung reaksi masing-masing tabung diisi dengan 3 ml larutan protein.
2.      Kedalam tabung 1 : tambahkan 2 ml HCl 0,1 M
3.      Kedalam tabung 2 : tambahkan 2 ml NaOH 0,1 M
4.      Kedalam tabung 3 : tambahkan 2 ml NaCl 0,1 M
5.      Lalu lihat atau amati tabung mana yang terjadi endapan
Hasil :
No
Perlakuan
Endapan
Kelarutan
1
3 ml protein + 1 ml HCl 0,1 M dan panaskan 15 menit
++
++
2
3 ml protein + 1 ml NaOH 0,1 M dan panaskan 15 menit
+++
+
3
3 ml protein + 1 ml NaCl 0,1 M dan panaskan 15 menit
+
+++



BAB 3
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Percobaan dengan Reaksi Biuret di tambah pereaksi dapat merubah warna protein, dengan uji koagulasi endapan yang dipanaskan lebih banyak dari pada yang tidak dipanaskan, sedangkan test pengendapan dengan alkohol pengendapan yang lebih banyak adalah yang di tambahkan NaCl, dan test yang terakhir denaturasi protein pengendapan yang lebih banyak adalah yang ditambahkan NaOH.
B.     Saran-saran
1.      Lebih berhati-hati dalam memasukkan bahan kimia dengan menggunakan pipet tetes ke dalam tabung reaksi.
2.      Memperhatikan perubahan dengan adanya endapan atau tidaknya harus dengan teliti, karena terlihat samar-samar.


DAFTAR PUSTAKA
http://biologiadv.blogspot.com/2013/01/laporan-biokimia-analisa-kualitatif.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar